Kemendikbud: Penguatan Karakter Pondasi Utama Dari Pendidikan

cambridge curriculum

Tidak bisa dimungkiri bahwa arus teknologi dan isu punya peranan penting pada kehidupan masyarakat. Walaupun teknologi punya imbas besar pada sektor kehidupan, perkembangan teknologi bisa menjadi tantangan kepada pribadi buah hati-buah hati.

Dunia pengajaran tidak menampik bahwa kemajuan teknologi memberikan manfaat yang signifikan. Bagi generasi muda, bila kemajuan ini tak diselaraskan dengan pengajaran karakter, hal ini dapat berdampak buruk.

Untuk itu, Kemendikbud punya taktik membangun karakter buah hati bangsa melewati program Penguatan Pengajaran Karakter (PPK).

Baca Juga: cambridge curriculum

Tujuan dari Penguatan Pengajaran Karakter juga dilaksanakan untuk menghasilkan generasi yang siap saing. Melainkan, juga dibekali dengan ahlak dan karakter yang mencerminkan budi pekerti pribadi bangsa kita.

Peran taktik pemerintah untuk melaksanakan hal ini disokong oleh Pepres No.87/2017 dari Presiden Jokowi untuk penyusunan karakter bangsa.

“Penguatan pengajaran karakter ialah pondasi dan roh utama dari pengajaran tingkat sekolah dasar di masa revolusi industri,” kata Dr. H. Khamim M.Pd, selaku Direktur Pembinaan Sekolah Dasar, Ditjen Dikdasmen, Kemendikbud, dalam acara Bincang Perspektif bersama Trakindo, Rabu (11/7/2018) lalu.

Dengan memakai prinsip pemikiran Ki Hajar Dewantara, program PPK dicanangkan mencakup sejumlah hal, merupakan pembekalan ilmu pengetahuan atau olah pikir, bersama olah hati, olah rasa, dan olahraga atau kesehatan jasmani buah hati.

Dr. H. Khamim mencontohkan bagaimana program penguatan pengajaran karakter dilakukan di sekolah.

Para siswa diajak untuk membaca sebelum pembelajaran diawali sebagai format pengajaran literasi. Sesudah itu, dikumpulkan untuk saling berbincang-bincang. Dalam pembicaraan siswa dapat berinteraksi dan dibina untuk saling menghormati dan menghargai satu sama lain. Mereka juga toleransi ketika sahabat tak sepandangan dengan anggapan kita.

Penggalangan dana, menjenguk sahabat yang sakit, serta menjaga lingkungan sekolah ialah model simpel dari program penguatan pengajaran karakter. Kecuali itu, guru juga berperan besar menjadi pengajar generasi bangsa.

“Satu model figur yang bagus lebih berarti dari seribu bimbingan,” kata Dr. H. Khamim. Berdasarkan ia, guru wajib mencerminkan perbuatan yang bagus terhadap para siswanya sebagai model figur.

Walaupun semacam itu, program ini tidak dapat berjalan dengan cuma dukungan dari warga sekolah saja. Melainkan juga masyarakat dan ayah dan ibu punya peran penting dalam pengajaran karakter

“Sinergi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat sungguh-sungguh penting untuk memperkuat pengajaran karakter bagi buah hati,” terang Dr. H. Khamim.

Paralel dengan pemikiran Dr. H. Khamim, Prof. Dr. H. Arief Rachman, M.Pd, selaku Ketua Harian Komisi Nasional untuk UNESCO, menerangkan bahwa kerja sama seluruh pihak perlu dilaksanakan dengan bagus, agar pengajaran karakter dapat berjalan secara maksimal terhadap buah hati.

“Bapak juga perlu kerja sama, dikumpulkan dan perlu dibina untuk menyokong pengajaran karakter buah hati,” kata Arief. Dia juga menekankan perlunya mencetak generasi bangsa yang bertata krama perlu adanya semangat, bekal ilmu karakter dari para ayah dan ibu.

Jadi, untuk menyusun generasi bangsa yang bagus, perlu bagi banyak pihak menghasilkan suasana yang kondusif dan saling mensupport. Hal itu perlu diamati sebagai upaya supaya tercipta generasi muda yang lebih bagus cocok dengan karakter bangsa Indonesia.

 

Baca Juga: sekolah internasional di jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published.