Keinginan Untuk Pengajaran di Indonesia

International School Jakarta – Apa gerangan dengan Indonesia? Dalam sebagian hal kita sebanding dengan mereka. Populasi penduduk, sumber tenaga alam (SDA) yang melimpah ialah aset yang harus menjadi modal untuk berkompetisi di tingkat global. Ukuran IQ malah, kita konsisten dapat berkompetisi.

Kongkretnya, pada sebagian waktu lalu, Indonesia meraih jawara lazim pada Laga Penelitian Ilmiah Remaja Tingkat Dunia Ke-17 atau 17th International Conference of Young Scientists (ICYS) yang ditiru sebanyak 13 negara peserta dan 20 regu di Bali. Hal itu belum lagi pada kancah persaingan serupa tingkat internasional di bidang eksakta di bawah komando Prof. Yohannes Surya.

Seringnya pelajar Indonesia menyabet jawara di tingkat internasional menyelipkan pesan bahwa pengajaran Indonesia tak keok pun unggul dengan pengajaran dari negara-negara lain. Pun sanggup menaklukkan negara yang memiliki pengajaran maju.

Tetapi, di lain sisi, kita masih menemukan dilema pada dunia pengajaran kita. Mulai bentuk komersialisasi dan liberalisasi pengajaran, kebiasaan plagiat di kalangan civitas akademik (baca: beberapa). Kesenjangan fasilitas pengajaran dan kwalitas pengajar.

Dari sini bisa diuraikan bahwa terjadi ketidakseimbangan dalam pengajaran di Indonesia. Kapabel menjuarai persaingan tingkat nasional maupun internasional tak segera kemudian menganggap pengajaran Indonesia maju dan bermutu dan merata.

Membetulkan cara pengajaran di Indonesia ialah hal yang benar-benar urgen. Perlu kiranya ada cara pengajaran yang berkelanjutan dalam rentang panjang. Tetapi, ironisnya justru yang ada merupakan tiap pergantian menteri pengajaran, karenanya berganti pula kebijakan. Selain ujian nasional (UN) yang masih dipertahankan walaupun senantiasa mendapatkan kritikan tajam dari kalangan peduli pengajaran.

Aspek lain dari kelamnya pengajaran di Indonesia merupakan saat pengajaran masih berorientasi pada aspek ‘angka’ dan uang. Karenanya tidak heran apabila pengajaran yang berorientasi sopan santun terbengkalai.

Adanya sekolah-sekolah yang mengklaim sebagai pelopor bertaraf internasional dalam satu sisi tentu ialah sebuah hal yang harus diapresiasi. Perkembangan modern berkeinginan tak berkeinginan menumbuhkan sekolah-sekolah yang memang bertaraf internasional, sebagai ikhtiar guna pembetulan dalam percaturan di tingkat global, tapi di sisi lain riskan dalam realita yang ada, international schools in Jakarta bertaraf internasional menjadi potret ketidakseimbangan sosial dan kecemburuan sosial di tengah sedikitnya si kecil ajar di negeri ini yang dapat merasakannya.

Apalagi, dana yang mesti dipersiapkan tak main-main. Orang tua mesti mempersiapkan uang jutaan rupiah supaya dapat memasukkan buah hatinya pada sekolah internasional. Hasilnya, kasta pengajaran menjadi kian eksis dan ini ialah sebuah gejala ketidaksehatan dalam progres membangun pengajaran yang unggul.